Senin, 09 April 2012

perkembangan islam di indonesia

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang   
Pada dasarnya kebangkitan Islam di Asia Tenggara pada abad ke-19 hingga abad ke-21 adalah sebuah fenomena global, bukan merupakan reaksi terhadap modernitas barat, melainkan  sebagai bagisn yang tidak terpisahkan dari proses pembaharuan yang selalu muncul dan menunjukkan keberlangsungan tradisi islam dalam sejarah. Masuknya islam di asia tenggara disebarluaskan melalui kegiatan kaum pedangang dan sufi. Hal ini sangat berbeda dengan perkembangan islam didunia lain yang pada dasarnya di sebarluaskan melalui penahlukan arab dan turki. Dapat disimpulkan bahwa secara perilaku, islam masuk ke asia tenggara dengan jalan damai, terbuka, dan tanpa paksaan sehingga sangat mudah islam diterima oleh masyarakat asia tenggara. Secara tidak langsung, inilah merupakan awal dari kebangkitan islam di asia tenggara.

Salah satu optimisme tentang kebangkitan islam di asia tenggara pada umumnya didasarkan pada “watak” atau “karakteristik” islam dikawasan ini yang berbeda dengan kawasan lain. Karakteristik terpenting islam di asia tenggara itu, misalnya lebih memiliki watak yang ramah, damai, dan toleran. Watak islam seperti itu diakui banyak pengamat barat, diantara Thomas Arnold, dalam bukunya The Preaching of Islam,Arnold menyimpulkan bahwa penyebaran dan perkembangan historis islam di asia tenggara berlangsung secara damai. Karakter yang toleran inilah yang membuat islam di asia tenggara tidak memusuhi peradapan barat.
Pernyataan kebnagkitan islam mensinyalir terdapatnya proses dinamika yang saling bertautan dengan masa depan. Pergerakan islam ini sangat erat hubungannya dengan system social masyarakat, terutam adalam pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan dalam konsep kulturalisasi. Persoalan kebudayaan sekaligus merupakan tantangan terberat dalam kemajuan dunia islam. Salah satu kemajuan dunia islam yang terus digerakkan sebagai wujud peradaban islam yang menyeluruh adalah berada pada sector dunia pendidikan. Agaknya pendidikan cukup mendapat tempat yang strategis. 




BAB II
PEMBAHASAN
 Asal Mula Islam Masuk Ke Indonesia
Sejak zaman prasejarah, penduduk kepulauan indonesia di kenal sebagai pelayar-pelayar yang  sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal abad masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan anta kepulauan indonesia dengan berbagai daerah di daratan asia tenggara. Pedagang-pedagang muslim asal arab, persia, dan india juga ada yang sampai ke kepualauan  indonesia untuk berdagang sejak abad ke-7 masehi, ketika islam pertama kali berkembang di timur tengah. Malaka, jauh sebelum di taklukan protugis (1511) merupakan pusat utama kegiatan lalu lintas perdagangan dan playaran. Malaka juga menjadi mata rantai playaran yang amat penting lebih ke barat ke gujarat, perjalaan llaut melintasi laut arab  darai sana perjalanan bercabang dua, pertama di sebelah utara menuju teluk oman, melalui selat ormuz ke teluk persia. Jalan yang kedua melalui teluk aden  dan lauat merah, dan dari kota suez jalan perdagangan harus melalui daratan  ke kaairo dan iskandariah.
 Ada beberapa pendapat dalam menentukan sejarah masuknya islam di Indonesia, pendapat itu antara lain :
Menurut Zainal Arifin Abass, agama islam masuk keindonesia sekitar abad ke-7 M (684 M) yang dibawa oleh seorang pemimpin arab ke tiongkok dan sudah mempunyai pengikut dari sumatra utara. Jadi menurut beliau, islam sudah masuk pertama kali ke Indonesia yakni di Sumatra utara. Pendapat yang hampir sama juka dikemukakan Hamka, bahwa islam masuk ke Indonesia pada tahun 674 M. berdasarkan catatan tiongkok, pada saat itu datang seorang raja arab Ta Cheh (Muawiyah Bin Sofyan) kerajaan Ho Ling (Kalingga) untuk membuktikan keadilan, kemakmuran, pemerintah Ratu Shima di Jawa Tengah ke Indonesia yang di adakan di Medan pada tanggal 17-20 Maret 1963, menyimpulkan bahwa islam masuk ke Indonesia pada abad 7 M langsung dari Arab dengan pertama kali mendatangi daerah pesisir Sumatra.
Pada zaman Sriwijaya, pedagangan nusantara mengunjungi pelabuhan cina dan pantai timur afrika. Akan tetapi menurut Taufik Abdullah belum ada bukti bahwa pribumi indonesia di tempat-tempat yang di singgahi oleh para pedagang muslim itu beragama islam. Baru pada zaman-zaman berikutnya, penduduk kepulauan ini masuk islam, bermula dari penduduk pribumi di koloni-koloni pedagang  muslim itu. Menjelang abad ke-13 masehi, masyarakat muslim mulai ada di samudra pasai, perlak, dan palembang di sumatra. Kemudian di jawa di temukannya makam fatimah binti maimun di gresik di angkat  tahun 475 h atau berkisar 1082 dan makam-makam islam di tralaya yang berasal dari abad ke-13 masehi merupakan bukti perkembangan komunitas islam, termasuk di kekuasaan hindu-jawa ketika itu, majapahit.
Sampai berdirinya kerajaan islam itu, perkembangan agama islam di indonesia dapat di bagi menjadi 3 fase:
Singgahnya pedagang –pedagang islam di pelabuhan nusantara . Sumbernya dalah berita luar negri terutama cina.
Adanya komunitas islam di beberapa daerah di beberapa daerah kepulauan indonesia sumbernya berita asing dan makam-makam islam.
Berdirinya kerajaan-kerajaan islam  seperti samudra pasai, aceh darusalam, demak, pajang, mataram, cirebon, banten, banjar, dan kutai.
Kedatangan islam dan penyebaranya kepada golongan bangsawan dan rakyat umumnya, di lakukan secara damai. Apabila situasi  politik suatu kerajaan mengalami kekacauan dan kelemahan  di sebabkan perebutan di kalangan keluarga, maka islam di jadikan alat politik  bagi golongan bangsawan atau pihak yang menghendaki kekuasaan itu. Apabila kerajaan islam telah berdiri, penguasanya melancarkan perang  terhadap kerajaan non islam.  Hal itu bukanlah karena persoalan agama tetapi karena dorongan politis untuk menguasai kerajaan-kerajaan  di sekitarnya. Adapun saluran-saluran islami yang berkembang ada 6 yaitu:
Saluran perdagangan
Saluran perkawinan
Saluran tasawuf
Saluran pendidikan
Saluran kesenian, dan
Saluran politik

2.2  Masuknya Islam Di Indonesia Sebelum Dan Sesudah Kemerdekaan
1.  Sebelum kemerdekaan
    Sebelum islam datang, di  Indonesia  telah berkuasa  kerajaan-kerajaan  hindu dan budha. Di antaranya, ada kerajaan  bahari terbesar  yang menguasai  dan mengendalikan  pulau-pulau di nusantara. Pada abad ke-7 islam belum menyebar luas  secara merata  ke seluruh  penjuru nusantara, karena pengerauh agama  budha  masih memegang  peranan  di kerajaan sriwijaya, terutama  dalam kehidupan  social, politik, perekonomian, dan kebudayaan. Pada  awal abad ke-13 M, kerajaan ini memasuki  masa kemuduran. Dalam kondisi seperti ini , pedagang-pedagang muslim memenfaatkan  politiknya dengan  mendukung daerah-daerah  yang muncul  dan menyatakan diri  sebagai kerajjaan  yang bercorak islam. Meraka tidak hanya membangun  perkampungan  pedagang  yang bersifat ekonomis, tetapi juga  membentuk struktur  pemerintahannya  yang di kehendaki. Misalnya  kerajaan  samudra pasai  abad ke-13 muncul  karena dukungan komunitas  muslim, juga  tidak terlepas  dari melemahnya  kondisi politik  kerajaan sriwijaya  yang kurang  mampu mengendalikan dan menguasai daerahnya.
    Islam sebagai  agama yang memberikan  corak kultur  bangsa Indonesia dan sebagai kekuatan politik  yang menguasai  struktur  pemerintahan  sebelum datangnya  belanda dapat  di lihat  dari munculnya kerajaan-kerajaan islam di nusantara ini, antara lain di Sumatra, jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.
Islam di  Sumatra 
    Ada tiga kerajaan  di Sumatra  yang telah memosisikan  islam sebagai agama dan sebagai kekuatan  politik  yang mewarnai  corak  social dan budayanya, yaitu perlak, pasai, dan aceh. Peralak merupakan kerajaan islam  pertama di Sumatra utara  yang berkuasa pada tahun 225-692 H./ 840-1292 M.  Pada mulanya, islam berkembang di perlak di pengaruhi  oleh aliran Syiah yang bertebaran  dari pasai ketika terjadi  revolusi syiah  pada tahun  744-747 M, dengan pemimpinya , Abdullah Ibnu Muawiyah.
    System pemerintahan  yang di terpakan oleh kerajaan islam perlak  pada dasarnya  mengikuti system  pemerintahan yang di laksanakan oleh  Daulah Abbasiyah (750-1258 M.)  yaitu kepala pemerintahan / kepala badan  eksekutif di pegang  oleh sultan  dangan di bantu  oleh beberapa  wazir.
    Penjelasan ini  menunjukan bahwa islam, baik sebagai  kekuatan  sosial  agama maupun   maupun sebagai  kekuatan  social-politik, pertama-tama  memperlahatkan  dirinya  di nusantara  ini adalah  di negri  perlak. Dari  negri inilah, pertama kali  islam perlak terus hidup  merdeka  samapai  di persatukanya  dengan kerajaan samudara pasai  pada zaman  pemerintahan  sultan muhamad malik Ad-Dzahir Ibn Al-Malik Ash- Shaleh (688-1254 H./ 1289-1326 M.) dengan  demikian, kerja islam perlak  pada abad ke-13 sudah  berada  dalam katagory kerajaan islam  samudra pasai  yang di rintis  oleh Malik Ash-Shaleh/Meurah  Silo (659-688 H./1261-1289 M)
    Kerajaan samudra pasai  berlangsung  sampai tahun 1524 M. pada tahun 1521, kerajaan ini di taklukan  oleh pertugis  yang menduduki  selama tiga tahun. Kemudian pada tahun 1524 M, di aneksasi  oleh raja aceh,  Ali Mughatsyah. Selanjutnya , kerajaan  pasai   berada di bawah  pengaruh ke sultanan  aceh yang berpusat di Bandar aceh darusalam.
    Sultan Ali Mughayatsyah (1514-530) telah banyak berjasa  dalam berbagai aspek keislaman. dalam bidang politik, sultan berupaya menghadang penjajjah pertugis  kristiani  dengan memperkrasai  Negara islam bersatu, yaitu menyatukan  tenaga politik  islam di dalam sebuah Negara  yang kuat  dan berdaulat  yang di beri nama “Aceh Besar” (1514). Dalam bidang pemerintahan, baginda raja telah meletakan  islam sebagai asas kenegaraaan, bahkan beliau melarang  orang-orang bukan islam  untuk memangku jabatan kenegaraan atau meneruskan jabatannya, dalam bidang dakwah, di bangun pusat islam yang megah,  di himpun para ulama  dari juru dakwah, serta menyuruh jihad  memerangi  penyembah berhala  dan syirik. Pada masa sultan Alauddin RI’Ayat Syah (abad ke-16), aceh di kenal sebagai  Negara islam  yang perkasa  dan menjadi pusat penyebaran  islam terbesar di nusantara. Dalam bidang hukum, syariat islam di tegakkkan, bahkan raja menghukum mati anaknya kerena kezaliman  dan jinayat (pidana). Dari pasai dan aceh, islam memancar  ke seluruh pelosok nusantara yang trjangkau  oleh para juru dakwah.
Islam Di Jawa
    Ahli-ahli sejarah  tampaknya sependapat  bahwa penyeberan islam  di jawa adalah para wali songgo. Mereka tidak hanya berkuasa  dalam lapangan  keagamaan, tetapi juga dalam  hal pemerintahan  dan politik. Bahkan, seringkalia seseorang raja seakan-akan  baru sah sebagai raja  kalau ia sudah  di akui  dan berkelahi  oleh wali songgo.
    Islam telah tersebar di pulau jawa, paling tidak sejak malik ibrahiam  dan maulana ishak  yang bergelar Syaikh Awal Al-islam  di utus sebagai  juru dakwah oleh raja  samudra, sultan Zainal  Abidin Bahiyah  Syah  (1349-1406) ke gresik. Dalam  politik, islam mulai memosikan  diri ketika  melemahnya kekuasaan  majapahit  yang memberi peluang  kepada pengausa  islam di pesisir  untuk membangun  pusat-pusat kekuasaan yang idependen dibawah pimpinan sultan Ampel, Wali Songgo bersepakat untuk  mengangkat Raden  Patah  sebagai  raja pertama kerajaan islam di demak, kerajaan islam pertama di jawa.  Dalam menjalankan  pemerintahanya, raden patah  di batu oleh  para ulama  dan wali songgo, terutama  dalam masalah-masalah keagamaan. Kerajaan ini berlangsung kira-kira abad ke 15 dan abad ke 16. Di samping itu berdiri pula kerajaan Islam Demak, Mataaram, Cirebon, dan banten. Dalam mendirikan Negara Islam tersebut, peran wali songo sangat besar. Misalnya Sunan gunung Jati mendirikan kerajaan Islam di Cirebon dan Banten, Sunan Giri di Kerajaan Mtaram uyang pengaruhnya sampai ke Makasar, Ambon, dan Ternate.

Islam Di Kalimantan, Maluku, dan Sulawesi
    Pada awal abad ke 16, Islam masuk ke Kalimantan Selatan yaitu di Kerajaan Daha(Banjar) yang beragama Hindu. Berkat bantuan Sultan Demak Trenggono (1521-1546), Raja Daha dan rakyatnya masuk islam sehingga berdirilah kerajaan Islam Banjar, dengan raja pertamanya Pangeran Samudera yang diberi gelar Pangeran Suryanullah atau Suryanusa. Setelah Raja pertama naik tahta, daerah-daerah sekitarnya mengakui kekuasaannya, yakni daerah Sambas, Batangla, Sukaciana dan Sambangan. Selanjutnya di Klimantan Timur(Kutai) pada tahun 1575, yaitu Tunggang Parangan mengislamkan Rja Mahkota. Sejak Baginda Raja masuk Islam terjadilah proses Islamisasi di Kutai dan sekitarnya. (Kutai) pada tahun 1575, yaitu Tunggang Parangan mengislamkan Rja Mahkota. Sejak Baginda Raja masuk Islam terjadilah proses Islamisasi di Kutai dan sekitarnya. Penyebaran lebih jauh kedarah-daerah pedalaman dilakukan terutama oleh putrnya, dan pengganti-penggantinya meneruskan perang ke daerah-daerah.
    Pada abad ke 10 dan ke 11, di Maluku sudah ramai perniagaan rempah-rempah, terutama cengkeh dan Pala yang dilakukan oleh para pedagang Arab dan Persia. Tentunya pada saat itu telah terjadi sentuhan para pedagang muslim di rakyat Maluku yang membentuk komunitas Islam. Dengan derasnya gelombang perdangan muslim dan atas ajakan Datuk Maulana Husain, di Ternate, raja gafi bata menerima islam di namanya berganti menjadi Zainal Abidin(1465-1486). Di Tidore dating seorang pendakwah dari tanah Arab yang bernama Syekh Mansur dn atas ajakannya, Raja Tidore yang bernama Kolana masuk islam  dan berganti nama  menjadi sulatan  jamaluddin. Di ambon, islam  datanga dari  jawa timur (gresik)  yang berpusat di kota pelabuhan  hitu pada tahun 1500 M. Namun usahanya  tidak banyak berhasil. Pada  masa sultan Baadullah (1570-1583) benteng pertahanan protugis di ambon di taklukkan.
2. Sesudah Kemerdekaan
    Ketika membahas dasar Negara  itulah terjadinya  perdebatan ideologis  yang sengit antara golongan  islam dan nasional sekuler.  Sebenarnya  gagasan  para tokoh  islam menjadikan  islam sebagai  dasar Negara tidak di lengkapi  oleh argumentasi  empiris mengenai “neagar islam” yang di cita-cikan  oleh tokoh islam, tetapi lebih tepat   adanya jaminan terhadap  pelaksanaan syariat  ajaran-ajaran islam  yang pada akhirnya  melahirkan Jakarta  charter atau piagam Jakarta yang menunjukan bahwa identitas orang islam perlu dijamin  serta kosntitusional.berangkat dari pristiwa  Jakarta charter tersebut, dapat dimengerti  bahwa Indonesia  bukan sebuah  Negara teokrasi tetapi juga bukan Negara sekuler.
    Sehari setelah prokramasi kemerdekaan, muncul persoalan  yakni dimentahkan kembali gentlementasi  agreement yang telah susah  payah di kemas  dalam piagam Jakarta. Kedudukan golongan  islam  tidak bertambah kuat  setelah bung karno dan bung hatta disehkan sebagai presiden dan wakli presiden. Dalam KNIP Yang di bentuk  kemudian  dari 137 onggotanya, hanya 20 orang yang berasal  dari golongan islam sedangkan dari  15 anggota BPKNPI yang di bentuk  bulan oktober 1945, hanya dua orang wakil islam. Setelah mengalami perombakan  pada bulan  September, 17 anggota islam  hanya mendapat jatah 3 orang. Secara kuantitas perwakilan ini tidak adil. Penduduk Indonesia  yang mayoritas islam  dalam cabinet presidential hanya memperoleh jatah kursi  sebagai  mentri  pekerjaan umum dan mentri Negara.
    “kekalahan golongan islam dengan  dihapuskannya  piagam Jakarta  membuat mereka bersatu  dan merasa senasib. Mereka mulai memikirkan  suatu partai politik  yang dapat menjadi  paying bagi semua  organisasi  islam pada saat itu. Timbulnya konflik  ideologis  tentang dasar  Negara belum berakhir dan  masalah yang kemudaian mencuat  kembali dalam  konstituante hasil pemilu 1955”.
    Meskipun persoalan itu belum selesai  di pecahkan  tampaknya ara pemimpin  bangsa Indonesia  sudah bergerak jauh  ke depan, memikirkan jalan altertatif “jalan tenagah”  dri dua pendapat tersebut. Mereka mnganjurkan  suatu Negara  yang mempunyai  dasar keagamaan  yang  positif , karan itu akan memajukan kegiatan  keagamaan. Dalam rangka itu departeman agama di dirikan.  Adapun tujuan dan fungsi  depertemen agam a yang di rumuskan  pada tahun 1967 adalah sebagi berikut:
Mengurus  serta mengatur  pendidikan agama  di sekolah-sekolah serta membimbing  perguruan-perguruan agama
 Mengikuti dan memperhatikan hal  yang bersangkutan  dengan agam adan keagamaan
Memberi penerangan  dan penyuluhan agama
Mengurus dan mengatur  peradilan  agama serta menyelesaikan masalah yang berhubungn  dengan hukum agama
Mengurus dan memperkembangkan IAIN, perguruan tinggi  agama swasta  dan pesantren luhur  dan mengawasi pendidikan  pada perguruan-perguruan  tinggi.
Mengatur, mengurus, dan mengawasi  penyelanggarakan hiba dan haji.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
    Pada dasarnya kebangkitan islam di asia tenggara  apa abad ke 19 hingga abad ke 21 adalah sebuah fenomena  global, bukan merupakan suatu reaksi  terhadap moderinitas  barat, melainkan  sebagian  yang tidak terpisahkan  dari proses  pembeharuan  yang selalu muncul  dan emnunjukan  keberlangsungan  tradisi islam  dalam sejarah.
    Masuknya islam di asi atenggara di sebarluaskan  melalui  kegiatan kaum pedagan  dan sufi, hal ini sangat berbeda  dengan perkambanagan  islam di dunia lain  yang pada dasarnya  di sebar luaskan  melalui penaklukan  arab dan turky.  Dapat di simpulakan  bahwa secara prilaku, islam msuk asi tenggara  dengn jalan damai, terbuka , dan tanpa paksaan  sehingga sangat  mudah islam di terima oleh masyarakat  asi tenggara. Secara tidak langsung  inilah merupakan  awal dari kebangkitan islam di asia tenggara.
     Kedatangan islam  di Negara-negara  yang ada di asia tenggara  hamper di awali  dengan interaksi  antara masyarakat  di wilayah  kepualauan  dengan para pedagang Arab, cian , Gujarat, iran, yaman, dan arab selatan. Kondisi semacam inilah  yang  di manfaatkan  oleh para pedagang muslim  yang singgah dan menyebar di wilayah sekitar pesisir.











        DAFTAR PUSTAKA    
Suhaimi.2010.  “Sejarah Islam Asia Tenggra”. Pekanbaru: CV.Witra Irzani.
Yatim, Badri.2010. “Sejarah Peradaban Islam”. Jakarta: Rajawali Pers. 
Supriady, Dedi.2008.“Sejarah Peradaban Islam” .Bandung: Pustaka Setia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar