Rabu, 23 Mei 2012

SILOGISME, kategorik, hipotetik, disjungtif dan dilema


SILOGISME
Berasal dari bahasa yunani syllogismos (penggabungan, penalaran), dari syn (dengan, bersama) dan logizhestai (menggabungkan, menyimpulkan dengan penalaran). [1]
Beberapa pengertian :
1.                  Cara berargumen deduktif absah manapun yang mempunyai dua premis dan  satu kesimpulan. Premis-premis demikian terkait dengan kesimpulan yang terkadung dalam premis-premis; konklusi harus menyusul.
2.                  Suatu bentuk penalaran yang memungkinkan dengan adanya dua kalimat atau proposisi-proposisi ketiga disimpulkan secara niscaya darinya.[2]
Pokok penting dalam silogisme :

1.                  SILOGISME KATEGORIS
Silogisme kategoris adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan proposisi kategoris. Demi lahirnya konklusi maka pangkal umum tempat kita berpijak harus merupakan proposisi universal. Sedangkan pangkalan khusus tidak berarti bahwa proposisinya harus partikular atau singular, tetapi juga bisa proposisi universal.[3]
Contoh:
 (Premis Mayor)          -Semua Mahasiswa MD pintar
                                                            M                P
 (Premis Minor)           -Ismail adalah Mahasiswa MD
                                          S                            M
 (Konklusi)                  -Ismail Pintar
                                          S        P
Keterangan:     M = middle term
                        P = prediket
                        S = subjek

Dari contoh diatas dapat kita simpulkan bahwa silogisme terdiri dari tiga pernyataan. Dua pernyataan pertama yang disebut premis dan satu kesimpulan yang disebut konklusi.[4] Simbol/kode yang dibawah kalimat sebagai pembantu dalam menemukan kesimpulan. Langkah pertama tandailah lebih dahulu term-term yang sama pada kedua premis, dengan memberi garis bawah kemudian kita tuliskan huruf M. Term lain pada premis mayor pastilah P dan pada premis minor tentu S. Kemudian tulislah konklusinya dengan menulis secara lengkap term S dan P nya. Untuk menentukan mana premis mayor tidaklah sukar karena ia boleh dikatakan selalu disebut pada awal bangunan silogisme. Term penengah (middle term) tidak boleh kita sebut atau kita tulis dalam konklusi. Begitulah dasar dalam memperoleh konklusi. Namun demikian kita perlu memperhatikan patokan-patokan lain agar didapat kesimpulan yang absah dan benar.[5]

Hukum-hukum silogisme kategoris[6] :
1.                  Apabila dalam suatu premis partikular, kesimpulan harus partikular juga.
2.                  Apabila salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif juga.
3.                  Dari sama-sama partikular tidak sah diambil kesimpulan.
4.                  Dari dua premis yang sama-sama negatif, tidak menghasilkan kesimpulan apapun, karena tidak ada mata rantai yang menghubungkan kedua proposisi premisnya.
5.                  Paling tidak salah satu dari perm penengah harus tertebar(mencakup). Dari dua premis yang term penengahnya tidak tertebar akan menghasilkan kesimpulan yang salah.
6.                  Term-prediket dalam kesimpulan harus konsisten dengan term prediket yang ada pada premisnya. Bila tidak menjadi salah.
7.                  Term penengah harus bermakna sama, baik dalam premis mayor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna ganda menjadi lain.
8.                  Silogisme harus terdiri dari tiga term, yaitu term subyek, term prediket dam term middle.

2.                  SILOGISME HIPOTETIK
Silogisme hipotetik adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi kategorik yang menetapkan atau mengingkari term antecedent atau term konsekuen premis mayornya.[7]
Contoh:
-                      Jika Ismail nangis, Solikin senang
-                      Ismail nangis
-                      Jadi Solikin senang

Ada 4 macam silogisme hipotetik :
1.                  Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui antecedent.
2.                  Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui antecedent.
3.                  Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari antecedent.
4.                  Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya.[8]
Hukum-hukum silogisme hipotetik:
1.                  Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.
2.                  Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana.(tidak sah=salah).
3.                  Bila B terlaksana, maka A terlaksana.(tidak sah=salah).
4.                  Bila B tidak terlaksana, maka A tidak terlaksana.[9]


3.                  SILOGISME DISYUNGTIF
Silogisme disyungtif adalah silogisme yang premis mayornya keputusan disyungtif sedangkan premis minornya keputusan kategorika yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor.[10]
Silogisme disyungtif ada dua macam, yaitu silogisme disyungtif dalam arti sempit dan silogisme disyungtif dalam arti luas.
a.                   Silogisme Disyungtif Arti Sempit
Silogisme disyungtif yang mayornya mempunyai alternatif kontradiktif.
Contoh :
-                      Ismail lulus atau tidak lulus
-                      Ismail lulus
-                      Jadi Ismail bukan tidak lulus

b.                  Silogisme Disyungtif Arti Luas
Silogisme disyungtif yang mayornya mempunyai alternatif bukan kontradiktif.
Contoh :
-                      Ismail di Kampus atau di Kos
-                      Ternyata tidak di Kampus
-                      Jadi di Kos
Hukum-hukum silogisme Disyungtif:
a.                  Silogisme disyungtif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur penyimpulannya valid.
b.                  Silogisme disyungtif dalam arti luas, kebenaran konklusinya sebagai berikut:
1.      Bila premis minor mengakui salah satu alternatif, maka konklusinya sah (benar).
2.      Bila premis minor mengingkari salah satu alternatif, konklusinya tidak sah(salah).[11]


4.                  DILEMA
Dilema adalah argumentasi, bentuknya merupakan campuran antara silogisme hipotetik dan silogisme disyungtif. Hal ini terjadi karena premis mayornya terdiri dari dua proposisi hipotetik dan premis minornya satu proposisi disyungtif. Konklusinya, berupa proposisi disyungtif, tetapi bisa proposisi kategorika. Dalam dilema, terkandung konsekuensi yang kedua kemungkinannya sama berat. Adapun konklusi yang diambil selalu tidak menyenangkan. Dalam debat, dilema dipergunakan sebagai alat pemojok, sehingga alternatif apapun yang dipilih, lawan bicara selalu dalam situasi tidak menyenangkan.[12]
Contoh:
            Jika Ismail jujur Solikin akan membencinya. Jika Ismail tidak jujur Rahmat akan membencinya. Sedangkan Ismail harus bersikap jujur atau tidak jujur. Berbuat jujur ataupun tidak jujur Ismail akan tetap dibenci.
Cara mengatasi dilema[13]:
1.                  Dengan meneliti kausalitas premis mayor.
2.                  Dengan meneliti alternatif yang dikemukakan.
3.                  Dengan kontra dilema.
4.                  Dengan memilih alternatif yang paling ringan.


                       


[1] Bagus lorens, kamus filsafat, (Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2005), hal. 999
[2] ibid hal. 1000
[3] Mundiri, Logika,( Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2006) hal. 100
[4] Bagus Lorens, Loc.Cit
[5] Mundiri, Op.cit hal 102
[6] Ibid  
[7] ibid, hal. 129
[8] Ibid, hal 130
[9] Ibid, hal. 131
[10] Ibid, hal. 134
[11] Ibid, hal. 136
[12] Ibid, hal. 138
[13] Ibid, hal. 140

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar