Kamis, 18 Oktober 2012

sumber daya manusia dalam dakwah


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
sumber daya manusia kini makin berperan besar bagi kesuksesan suatu organisasi. Banyak organisasi menyadari bahwa unsur manusia  dalam suatu organisasi dapat memberikan keunggulan bersaing. Mereka membuat sasran, strategi, inovasi, dan mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu, sumber daya manusia merupakan salah satu unsur yang paling vital bagi organisasi. Terdapat dua alasan dalam ha ini. Pertama sumber  daya manusia memengaruhi efesiensi dan efektifitas organisasi, sumber daya manusia merancang dan memproduksi barang dan jasa, mengawasi kualitas, memasarkanproduk, mengalokasikan sumber daya finansial, serta menentukan seluruh tujuan dan strategi organisasi. Kedua, sumber daya manusiamerupan  pengeluaran utama orrganisasi dalam menjalankan bisnis.[1]
karena pentingnya SDM dalam pelaksanaan dan pencapaian tujuan organisasi maka pengelolaan sumber daya manusia harus memperhatikan berbagai aspek seperti aspek staffing, pelatihan dan pengembangan, motivasi dan pemeliharaannya yang secara lebih mendetail.[2]









BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sumber daya manusia.
Jika dilihat dari agent of social change atau pihak-pihak yang hendak melakukan dakwah dalam hal ini para da’i dapat bersifat individual dan dapat pula bersifat kolektif(jamaah). Hal ini dapat dipahami dari firman Allah SWT.
`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããôtƒ n<Î) ÎŽösƒø:$# tbrããBù'tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ  
Artinya: “hendaklah diantara kalian ada umat yang menyeru kepada kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.(Ali Imran:104)
Menurut Abdul Karim Zaidan, ayat tersebut menjadi landasan, bahwa dakwah kepada agama Allah adakalanya diselenggarakan dalam bentuk individual dan adakalanya dalam bentuk kolektif (jamaah) atau organisasi. Sebab ayat ini, menurutnya,  mengandung makna dakwah kolektif sekaligus dakwah individual, dengan pemahaman bahwa kewajiban umat juga berarti kewajiban individu, sebab umat merupakan kumpulan individu-individu. Untuk memperkutkan pemahamanya ini, ia mengutip penafsiran ibnu Kasir yang mengatakan bahwa, maksud ayat tersebut adalah hendaknya ada sekelompok dari umat ini yang melaksanakan tugas dakwah, meski sesungguhnya tugas itu menjadi tanggunga jawab setiap individu umat, seperti di jelaskan hadis nabi yang diriwayat oleh imam Muslim adri Bu Hurairah, bahwa Rosul SAW. Bersabda: “barang siapa diantara kalain melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangan nya, jika tidak mampu, maka hendaklah dengan lidahnya (perkataanya), jika tidak mampu, maka hendaklah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.”

Tanpa bermaksud mengecilkan peran agen perubahan sosial yang bersifat individu, kiranya penting dikemukakan disini beberapa kelebihan dan kekurang agen perubahan sosial yang bersifat kolektif yaitu antara lain, kedudukan lebih kuat dan lebih diperhitungkan, jangkauanya lebih luas, lebih efektif karena disamping memberi penerangan juga melakukan pembinaan, dan programnya tersusun lebih baik. Disamping alasan-alasan tersebut, keutamaan agen kolektif (jamaah) didasarkan pula pada alasan teologis. Allah berfirman dalam surat almaidah:2
(#qçRur$yès?ur n?tã ÎhŽÉ9ø9$# 3uqø)­G9$#ur ( Ÿwur (#qçRur$yès? n?tã ÉOøOM}$# Èbºurôãèø9$#ur 4 ........ ÇËÈ 
Artinya: ”dan tolong-menolonglah kalian pada kebaikan dan takwa dan jangan la kalian tolong-menolong pada dosa dan permusuhan...”
Dengan mengacu pada Al-Quran dan al-Hadis Nabi sebagaimana dikemukakan pada pembahasan sebelumnya, maka disini akan di ungkap persyaratan-persyaratan yang ditetapkan oleh Al-Quran dan Hadis, baik secara eksplisit (gamblang) maupun secara implisit(terkandung). Secara garis besar, ayat-ayat dan hadis-hadis yang berkaitan dengan syarat-syarat menjadi agen dakwah dapat di klasifikasikan kedalam dua kelompok,yaitu:
1.      Ayat-ayat dan hadis-hadis yang berkaitan dengan syuruth ilmiyyah (syarat-syarat ilmiah)
2.      Syuruth syakhshiyyah (syarat-syarat keperibadian)
Syarat yang pertama didasar kan antara lain, pada firman Allah dalam surat yusuf:108
ö@è% ¾ÍnÉ»yd þÍ?ŠÎ6y (#þqãã÷Šr& n<Î) «!$# 4 4n?tã >ouŽÅÁt/ O$tRr& Ç`tBur ÓÍ_yèt6¨?$# ( z`»ysö6ßur «!$# !$tBur O$tRr& z`ÏB šúüÏ.ÎŽô³ßJø9$# ÇÊÉÑÈ  
Artinya: “katakan lah, inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang nyata, maha suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yaang musyrik”.
Melalui ayat ini nabi Muhammad menegaskan, bahwa dirinya berdakwah ke jalan Allah dengan di bekali keyakinan dan pengetahuan. Menurut Al-Raghib al Ashfahami, maknanya adalah atas dasr ilmu pengetahuan dan kejelasan. Sedangkan menurut al-Qurthubi, makna frasa tersebut adalah atas dasar keyakinan dan kebenara. Penafsiran yang lain dikemukakan oleh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, menurutnya lafal tersebut mengandung pengertian dengan dilandasi argumen yang jelas, tidak buta.
Berangkat dari penafsiran-penafsiran tersebut, maka dapat dipahami, bahwa isi kandungan surat yusuf ayat 108 tersebut adalah anjuran kepada pihak-pihak yang hendak berdakwah atau hendak membebas masyarakat dari kondisi yang menyimpang, salah dan buruk, harus terlebih dahulu membakali dirinya dengan pengetahuan, baik agama maupun umum yang mendalam, dan dilandasi argumen yang  jelas dan meyakinkan. Syarat ilmiah tersebut meliputi pengetahuan agama dan umum. Berkaitan dengan penting nya ilmu agamabagi pihak-pihak ytang hendak melakukan rekayasa sosial, Allah berfirman dalam surat at-Taubah:122
* $tBur šc%x. tbqãZÏB÷sßJø9$# (#rãÏÿYuŠÏ9 Zp©ù!$Ÿ2 4 Ÿwöqn=sù txÿtR `ÏB Èe@ä. 7ps%öÏù öNåk÷]ÏiB ×pxÿͬ!$sÛ (#qßg¤)xÿtGuŠÏj9 Îû Ç`ƒÏe$!$# (#râÉYãŠÏ9ur óOßgtBöqs% #sŒÎ) (#þqãèy_u öNÍköŽs9Î) óOßg¯=yès9 šcrâxøts ÇÊËËÈ  
Artinya:”dan tidak sepantasnya semua orang beriman pergi(medan perang). Mengapa tidak sekelompok orang dari tiap-tiap golongan dari mereka untuk mendalami agama dan untuk memberi peringatankepada kaumnya apabila meraka kembali kepadanya, agar mereka takut akan siksaan Allah”. Dari ayat ini sepertinya ayat terdahulu, juga dapat dicatat bahwa pihak-pihak yang hendak melakukan hinzar (peringatan) harus terlebihdahulu membekali dengan pengetahuan agama yang mendalam.”

Maksud yang terdapat dalam ayat tersebut adalah agar mereka berupaya memaksimal mungkin untuk memahami agama. Adapun pengetahuan agama harus dimiliki oleh pihak-pihak yang hendak melakukan rekayasa sosial atau didalam bahasa manajemen nya biasa disebut sebagai sumber daya manusia adalah Al-Quran dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan nya,hadis dan ilmu yang berkaitan dengannya, fikih, dan usul fikh, ilmu akidah, ilmu tasauf. Berkaitan dengan ilmu-ilmu ini, adanya dikutip keterangan Muhammad abduh dan Yusuf al-Qardahawi. Menurut Muhammad abduh,pengetahuan agama yang seharusnya dimiliki oleh para juru dakwah adalah pengetahuan Al-Quran,al-Hadis, sirah Nabi, sejarah hidup khulafa’rosyiddin dan salaf shaleh, dan pengetahuam hukum yang memadai. Sedangkan menurut Yusuf al-Qardawi ilmu-ilmu tersebut adalah Al-Quran dan tafsirnya, sunnah Nabi, ilmu Fikh, ilmu usul fikih, ilmu akidah, ilmu tsawuf, dan pengetahuan tentang ajaran islam yang menyeluruh dan terpadu.
Disamping pengetahuan agama, pihak-pihak yang hendak melakukan dakwah juga dituntut memiliki pengetahuan umum. Maksud pengetahuan umum disini adalah pengetahuan yang dapat dijadikan media untuk mengenal masyarakat dan persoalan-persoalan yang dihadapinya. Berkaitan dengan pentingnya pengetahuan ini bagi pihak-pihak yang hendak melakukan  dakwah, umpamanya, dapat dipahami dari firman Allah dalam surat an-Nahl:125
äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# (......... ÇÊËÎÈ  
Artinya:serulah kejalan tuhanmu dengan cara hikmah, nasihat yang baiak, dan debatlah mereka dengan cara terbaik.
Ayat ini secara ekspelisit menjelaskan tentang tata cara berdakwah, yaitu dengan cara hikmah, nasihat yang baik dan debat dengan cara terbaik. Namun dibalik itu dapat dipahami bahwa pihak-pihak yang hendak berdakwah atau melakukan rekayasa harus terlebih dahulu mengenal kondisi masyarakat yang menjadi sasaran rekayasa, agar tata cara berdakwah yang tersebut didalam ayat dapat digunakan sabagaimana semestinya.
Adapun pengetahuan   umum yang seharusnya dimiliki oleh pihak-pihak yang hendak melakukan dakwah, antara lain adalah psikologi, sosiologi, pengetahuan alam, pengetahuan ekonomi, dan politik serta sain teknologi. Syarat kedua yang harus dimiliki oleh orang yang akan melakukan dakwah adalah syuruth syakhshiyyah. Maksudnya syarat-syarat syakhshiyyah disini, adalah syarat-syarat keperibadian pihak-pihak yang hendak melakukan rekayasa sosial. Allah SWT. Berfirman dalam surat al-Baqarah:44

* tbrâßDù's?r& }¨$¨Y9$# ÎhŽÉ9ø9$$Î/ tböq|¡Ys?ur öNä3|¡àÿRr& öNçFRr&ur tbqè=÷Gs? |=»tGÅ3ø9$# 4 Ÿxsùr& tbqè=É)÷ès? ÇÍÍÈ  
Artinya:”apakah kalian memerintahkan manusia berbuat kebaikan dan kalian melupakan diri kalian, sementara kalia membaca al-kitab, tidakkah kalian berpikir?”
Diriwayatkan oleh Abu Shaleh dari Ibn Abbas bahwa ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang yahudi Madinah. Diaman seoarang dari memeka berkata kepada mertua, dan ornag-orang muslim sesusuannya:
“berpegang teguhlah kepada agama yang engkau anut dan apa yang diperintahkan oleh laki-laki ini(Muhammad SAW) sebab, yang ia perintahkan adalah kebenaran. Kemudian orang-orang yahud memerintahkan hal itu kepada masyarakat padahal mereka sendiri tidak melakukanya.”
Penafsiran ayat tersebut adalah, apakah kalian memerintahkan manusia berbauat kebaikan padahal kalian sendiri tidak mengerjakan apa yang kalian katakan, sementara kalian membaca al-kitab. Tidakkah kalian berpikir? Ayat tersebut menjadi dalil bahwa pihak-pihak yang hendak melakukan dakwah haruslah terlabih dahulu membekali dirinya dengan kepribadian yang terpuji, yang antara lain meliputi:
1.      Iman
2.      Ilmu
3.      Amal saleh
4.      Keikhlasan
5.      Kesabaran
6.      Keteguhan pendirian
7.      Rela berkorban
Sebagai catatan dalam perubahan masyarakat ini harus didahului perubahan anfus ( pemikiran dan iman) dari pelaku dakwah sehingga dakwah dapat mencapai sasaran. Untuk mencapai apa  yang diinginkan, maka aktifitas dakwah itu harus dikelola secara profesional dengan manajemen yang baik, mulai dari awal sampai dengan akhir. Semoga contoh perubahan yang di lakukan nabi dengan berbagai tahapan dengan menggunakan prinsip-prinsip manajemen ini dapat menjadi acuan bagi para manajer dakwah atau praktis dakwah dalam melakukan aktivitas dakwahnya.
Dengan mengacu pada aspek historis dakwah nabi Muhammad SAW dalam melakukan dakwah, maka aspek ini dapat dijadikan bahan pelajaran dan kajian pelaku dakwah serta menggerakkan umatnya pada tataran yang diharapkan. Dengan demikian aktivitas dakwah, baik secara personal maupun kolektif, dapat dikelola dan diarahkan sesuai dengan kondisi umat. Karena secara kuantitaif  dakwah islam bertujuan untuk memengaruhi rakyat menuju terbentuknya tatanan indifidu dan kesalehan kolektif.
Untuk itu para pelaku dakwah harus bersikap profesional dalam arti membekali diri nya dengan berbagai keilmuan dan strategi dan metode dakwah yang  mantap dengan mengikuti segala perkembangan termasuk sain dan teknologi, mengingat kondisi umat yang dinamis dengan berbagai situasi dan konflik yang muncul di masa yang akan datang.
2.2    pendekatan sumber daya manusia.
Dalam setiap kegiatan atau aktivitas organisasi dari waktu ke waktu selalu timbul permasalahan-permasalahan. Untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul ada beberapa pendekatan yaitu:
1.      pendekatan mekanis (pendekatan klasik)
dalam pendekatan mekanis, apabila ada permasalahan yang berhubungan dengan tenaga kerja,maka unsur manusia dalam organisasi disamakan dengan faktor produksi lain, sehingga pimpinan cendrung menekan pekerja dengan upah yang minim. Pandangan pendekatan seperti ini menunjukan sikap bahwa tenaga kerja harus dikelompokkan sebagai modal yang merupakan faktor produksi. Dengan hal ini maka di usahakan untuk memperoleh tenaga kerja yang murah namun bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin dan memperoleh hasil yang lebih besar untuk kepentingan pemberi kerja. Pendekatan ini cukup dominan di negara-negara industri barat sampai dengan tahun 1920-an.
2.      Pendekatan Paternalisme (pendidikan paternalistik)
Dengan adanya perkembangan pemukiran dari para pekerja yang semakinmaju dari para pekerja, yang menunjukkan merka dapat melepaskan diri dari ketergantungan manajemen, makapimpinan mengimbangkan dengan kebaikan dengan para pekerja.
Paternalisme merupakan suatu konsep yang menganggapmanajemen sebagai pelindung terhadap karyawan, sebagai usah telah dilakukan oleh pimpinan supaya para pekerja tidak mencari bantuan dari pihak lain.
3.      Pendekatan sistem sosial (pedekatan Human Reletion)
Sumber daya manusia atau personalia merupakan proses yang kompleks. Dengan kekomplekan kegiatan manajemen sumber daya manusia,
Maka pimpinan mulai mengarah pada pendekatan yang lain yaitu pendidikan sistem sosial yang merupakan suatu pendekatan yang dalam pemecahan masalah selalu memperhitungkan faktor-faktor lingkungan. Setiap ada permasalahan amaka diusahakan dipecahkan dengan sebaik mungkin dengan resiko yang paling kecil, baik bagipihak tenaga kerja maupun pemberi kerja.[3]
2.3    Pentingnya Perencanaan dan Pengawasan SDM.
1.        Esansi Perencanaan SDM
Perencanaan sunber daya manusia (human resoure planing) merupakan bagian dari alur proses manajemen dalam menentukan pergerakan sumber daya manusia organisasi, dari posisi saat ini menuju posisi yang diinginkan dimasa depan. Dengan demikian, keberhasilan perencanaan sumber daya manusia akan ditentukan oleh ketepan pemilihan strategi dalam merencang  pemberdayaan pesonil yang ada saat ini dan memprediksi kebutuhan di masa depan.
Dengan perencanaan sember daya manusia yang baik, maka organisasi akan memetik banyak manfaat. Merujuk pada pandangan Schuler (1987:52-53) tentang manfaat perencanaan sumber daya manusia, dapatlahdisimpulkan sebagai berikut:
1.      Mencegah terjadinya ketimpangan antara predisi kebutuhan dengan ketersediaan SDM, baik dilihat dari sisi jumlah maupun kualifikasinya, sehingga dapat menurunkan resiko biaya pegawai.
2.      Menyiapkan basis untuk pemberdayaan dan pengembangan SDM berdasarkan hasilidentifikasi kompetensi yang tersedia dibandingkan dengan realita kebutuhan oprasional.
3.      Menjamin tersedianya SDM sesuai dengan pergeseran kebutuhan, sehingga mendukung realisasi proses perencanaan stratejik bisnis secara menyeluruh melalui analisis spply and demand.
4.      Meningkatkan kesadaran akan pentingnya mnajemen SDM di setiap level organisasi.
5.      Menyediakan alat evaluasi untuk mengukur dampak dari berbagai alternatif tindakan dan kebijakan SDM.
2.        Esensi pengawasan SDM .
Fungsi pengawasan SDM adalah proses evaluasi untuk mengukur kesesuaian dan pelancaran pelaksanaan kegiatan, serta ketercapaian hasil berdasarkan rencana yang sudah ditetapkan. Esensi dalam proses pengawasan SDM adalah mengukur capaian kinerja presonil, baik secara individual maupun kelompok, dibandingka dengan target hasil yang sudah direncanakan serta kesesuaiannya dengan rencana analisis pekerjaan.
Ada sejumlah faktor yang dapat mendukung bagi keberhasilan pengawasan, antara lain mencakup:
1.      Penetapan standar yang eligible
2.      Pendelegasian diberikan kepada orang yang tepat
3.      Keseimbangan dalam manajemen strategik bisnis
4.      Komunikasi yang efektif
5.      Disiplin, proporsionalitas, dan propesionalitas
6.      Sinergi antara pemimpin dengan bawahan
7.      Praktik dan prilaku kepemimpinan yang transparan dengan mensinerjikkan IQ, EQ dan SQ.














BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Sumber daya manusia merupakan salah satu unsur yang paling vital bagi organisasi. Terdapat dua alasan dalam ha ini. Pertama sumber  daya manusia memengaruhi efesiensi dan efektifitas organisasi, sumber daya manusia merancang dan memproduksi barang dan jasa, mengawasi kualitas, memasarkanproduk, mengalokasikan sumber daya finansial, serta menentukan seluruh tujuan dan strategi organisasi. Kedua, sumber daya manusiamerupan  pengeluaran utama organisasi dalam menjalankan bisnis.
Di karnakan pentingnya sumber daya manusia untuk itu  harus memperhatikan berbagai aspek seperti aspek staffing, pelatihan dan pengembangan, motivasi dan pemeliharaannya yang secara lebih mendetail.
3.2    Saran
Dalam makalah ini penulis menyarankan agar sumber daya manusia hendaknya dijalankan dengan sebaik mungkin, mengingat begitu pentingnya peran dan fungsi sumber daya manusia dalam rangka pencapaian tujuan yang ditetapkan organisasi. Perkembangan psikologi manusia perlu menjadi perhatian utama bagi manajer sumber daya manusia, dalam rangka melakukan manajemen terhadap sumber daya manusia dalam organisasi. Bagi seorang pemimpin, memperkaya khanazah ilmu pengetahuan, untuk  meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dimasa yang akan datang. 




[1] Rachmawati, ike kusdyah, manajemen sumber daya manusia, (Yogyakarta:Andi, 2008), hlm. 1
[2] Yuniarsih, tjutju, manajemen sumber daya manusia, (Bandung: alfabeta, 2008), hlm. 2
[3]  Yuniarsih, tjutju, op,cit. 4-5.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar